Rumah Gadang

Rumah gadang merupakan rumah adat suku minangkabau

Lembah Anai

Merupakan suatu kawasan yang telah menjadi cagar alam propinsi Sumatera Barat

Lembah Harau

Merupakan nagari di Kab.50 Kota yang dikelilingi oleh ngarai dan air terjun dengan pemandangan yang menakjubkan

Jam Gadang

Jam Gadang sebagai salah satu icon wisata sumatera barat

Istana Pagaruyung

Istana Pagaruyung, salah satu peninggalan kejayaan kerajaan Minangkabau

Pertunjukan Randai

Randai adalah salah satu permainan tradisional di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambil menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara berganti-gantian. Randai menggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu.

Randai dipimpin oleh satu orang yang biasa disebut tukang goreh, yang mana selain ikut serta bergerak dalam lingkaran legaran ia juga memiliki tugas yang sangat penting lainya yaitu mengeluarkan teriakan khas misalnya hep tah tih untuk menentuak cepat atau lambatnya tempo gerakan dalam tiap gerakan. Tujuannya agar Randai yang dimainkan terlihat rempak dan menarik serta indah dimata penonton Randai tersebut. Biasanya dalam satu group Randai memiliki tukang goreh lebih dari satu, yang tujuannya untuk mengantisipasi jika tukang goreh utama kelelahan atau kemungkinan buruk lainnya, karena untuk menuntaskan satu cerita Randai saja bisa menghabiskan 1 hingga 5 jam bahkan lebih.

Cerita randai biasanya diambil dari kenyataan hidup yang ada di tengah masyarakat. Fungsi Randai sendiri adalah sebagai seni pertunjukan hiburan yang didalamnya juga disampaikan pesan dan nasihat. Semua gerakan randai dituntun oleh aba-aba salah seorang di antaranya, yang disebut dengan janang.

Randai dalam sejarah Minangkabau memiliki sejarah yang lumayan panjang. Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan, Tanah Datar ketika mesyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut. Randai dalam masyarakat Minangkabau adalah suatu kesenian yang dimainkan oleh beberapa orang dalam artian berkelompok atau beregu, di mana dalam Randai ini ada cerita yang dibawakan, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Randai ini bertujuan untuk menghibur masyarakat yang biasanya diadakan pada saat pesta rakyat atau kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Pada awalnya Randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. Namun dalam perkembangannya, Randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara, seperti kelompok Dardanela.

Randai ini dimainkan oleh pemeran utama yang akan bertugas menyampaikan cerita, pemeran utama ini bisa berjumlah satu orang, dua orang, tiga orang atau lebih tergantung dari cerita yang dibawakan, dan dalam membawakan atau memerankannya pemeran utama dilingkari oleh anggota-anggota lain yang bertujuan untuk menyemarakkan berlansungnya acara tersebut.


Randai dilaksanakan dalam bentuk teater arena. Artinya, pertunjukan randai berlangsung di arena (lapangan terbuka). Pada zaman dahulu kala pertunjukan randai hanya dilakukan di lapangan. Adakalanya di lapangan khusus (medan) dan adakalanya di laksanakan di halaman rumah gadang. Lapangan atau halaman itu sekaligus tempat pertunjukan dan tempat penonton. Jadi pertunjukan randai bukan di ruangan, melainkan di lapangan. Namun seiring perkembangan zaman yang semakin maju, pertunjukan randai sudah ada yang dilakukan di ruangan tertutup yang luas.

Sumber :
- Wikipedia
- Kabaranah.com

Suku-suku Minangkabau

Kerajaan Minangkabau mencakup seluruh Sumatera Barat daratan, bagian selatan Sumatera Utara, bagian timur Riau, bagian utara Jambi, bagian utara Bengkulu dan Negeri Sembilan Malaysia. Dengan luasnya daerah kerajaan Minangkabau ini tidak heran lagi terdapat banyaknya suku-suku di Minangkabau ini dengan perkembangannya dan kekebaratannya dengan suku-suku lainnya.


Sebagaimana suku-suku lainnya di nusantara terutama Suku Batak, Suku Mandailing, Suku Nias dan Suku Tionghoa, Suku Minang juga terdiri atas banyak marga atau klan tapi menganut sistem matrilineal, yang artinya marga tersebut diwariskan menurut ibu.
Di Minangkabau marga tersebut lazim dikenal sebagai Pada awal pembentukan budaya Minangkabau oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, hanya ada empat suku induk dari dua kelarasan. Suku-suku tersebut adalah:
  • Suku Koto
  • Suku Piliang
  • Suku Bodi
  • Suku Caniago
Sekarang suku-suku dalam Minangkabau berkembang terus dan sudah mencapai ratusan suku, yang terkadang sudah sulit untuk mencari hubungannya dengan suku induk. Di antara suku-suku tersebut adalah:
  • Suku Piboda
  • Suku Pitopang
  • Suku Tanjung
  • Suku Sikumbang
  • Suku Guci
  • Suku Panai
  • Suku Jambak
  • Suku Panyalai
  • Suku Kampai
  • Suku Bendang
  • Suku Malayu
  • Suku Kutianyie
  • Suku Mandailiang
  • Suku Sipisang
  • Suku Mandaliko
  • Suku Sumagek
  • Suku Dalimo
  • Suku Simabua
  • Suku Salo
  • Suku Singkuang
  • Suku Rajo Dani
Berikut keterangan tentang suku-suku tersebut:

1. Suku Koto
Suku koto merupakan satu dari dua klan induk dalam suku Minangkabau. Suku minangkanbau memiliki dua klan (suku dalam bahasa orang minang) yaitu Klan/suku Koto Piliang dan Klan/suku Bodi Chaniago

Pemekaran
Suku ini mengalami pemekaran menjadi beberapa pecahan suku yaitu:
  • Tanjung Koto
  • Koto Piliang di nagari Kacang, Solok
  • Koto Dalimo,
  • Koto Diateh,
  • Koto Kaciak,
  • Koto Kaciak 4 Paruaik di Solok Selatan
  • koto Tigo Ibu di Solok Selatan
  • Koto Kampuang,
  • Koto Kerambil,
  • Koto Sipanjang
  • koto sungai guruah di Nagari Pandai Sikek (Tanah Data)
  • koto gantiang di Nagari Pandai Sikek (Tanah Data)
  • koto tibalai di Nagari Pandai Sikek (Tanah Data)
  • koto limo paruik di Nagari Pandai Sikek (Tanah Data)
  • koto rumah tinggi di nagari Kamang Hilir (Agam)
  • koto rumah gadang, di nagari Kamang Hilir (Agam)
  • kotosariak, di nagari Kamang Hilir (Agam)
  • koto kepoh, di nagari Kamang Hilir (Agam)
  • koto tibarau, di nagari Kamang Hilir (Agam)
  • koto tan kamang/koto nan batigo di nagari Kamang Hilir (Agam)
  • Koto Tuo di Kenegerian Paranap, Inderagiri Hulu
  • koto Baru di Kenegerian Paranap, Inderagiri Hulu
2. Suku Piliang
Suku Piliang adalah salah satu suku (marga) yang terdapat dalam kelompok suku Minangkabau. Suku ini merupakan salah satu suku induk yang berkerabat dengan suku Koto membentuk Adat Ketumanggungan yang juga terkenal dengan Lareh Koto Piliang.

Pemekaran
Suku ini mengalami pemekaran menjadi beberapa pecahan suku yaitu:
Piliang Guci (Guci Piliang di nagari Koto Gadang, Agam)
Pili di Nagari Talang, Sungai Puar (Agam)
Koto Piliang di nagari Kacang, Solok dan Lubuk Jambi, Kuantan Mudik, Riau
Piliang Laweh (Piliang Lowe) di ([[Kuantan Singingi))
Piliang Sani (Piliang Soni) di Kuantan Singingi, Riau dan nagari Singkarak, Solok
Piliang Baruah
Piliang Bongsu,
Piliang Cocoh,
Piliang Dalam,
Piliang Koto,
Piliang Koto Kaciak,
Piliang Patar,
Piliang Sati
Piliang Batu Karang di nagari Singkarak, Solok
Piliang Guguak di nagari Singkarak, Solok
Piliang Atas (Kuantan Singingi))
Piliang Bawah (Kuantan Singingi))
Piliang Godang (Piliang Besar)
Piliang Kaciak (kecil)

Persebaran
Suku ini banyak menyebar ke berbagai wilayah Minangkabau yaitu Tanah Datar, Agam, Lima Puluh Kota, Solok, Riau, Padang dan beberapa daerah lainnya.
Dari beberapa sumber, diketahui tidak terdapat suku ini di Pesisir Selatan dan Solok Selatan.

Kerabat
Di bawah payung suku Koto-Piliang, terdapat banyak suku lain yang bernaung, diantaranya adalah :
suku Tanjung
suku Guci
Suku Sikumbang
Suku Malayu
Suku Kampai
Suku Panai
Suku Bendang
Suku Piliang berdatuk kepada Datuk Ketumanggungan di zaman Adityawarman.

3. Suku Bodi
Suku Bodi adalah salah satu suku (marga) dalam kelompok etnis Minangkabau yang juga merupakan sekutu Suku CaniagoAdat Perpatih atau Lareh Bodi Caniago. Kelarasan Bodi-Caniago ini didirikan oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang. membentuk

Persebaran
Suku ini tidak banyak tersebar di wilayah Minangkabau yang lain seperti halnya saudara dekatnya sendiri yaitu Suku Caniago, Suku Koto dan Suku Piliang. Suku ini kebanyakan terdapat di Kabupaten Tanah Datar.

4. Suku Caniago
Suku Caniago adalah suku asal yang dibawa oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang yang merupakan salah satu induk suku di Minangkabau selain suku Piliang. Suku Caniago memiliki falsafah hidup demokratis, yaitu dengan menjunjung tinggi falsafah "bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat. Nan bulek samo digolongkan, nan picak samo dilayangkan" artinya: "Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat". Dengan demikian pada masyarakat suku caniago semua keputusan yang akan diambil untuk suatu kepentingan harus melalui suatu proses musyawarah untuk mufakat.

5. Suku Tanjung
Suku Tanjung merupakan subsuku dari Suku Minangkabau yang tergolong banyak perkembangan populasinya. Suku ini tersebar hampir di seluruh wilayah Minangkabau dan perantauannya.

Persebaran suku Tanjung
Suku Tanjung banyak menyebar nagari Batipuh (Tanah Datar), Kurai Limo Jorong (Agam), Ampek Angek (Agam), Talang Sungai Puar (Agam), Maninjau, Singkarak (Solok), Koto Gaek dan Aie Batumbuk (Solok), Air Bangis dan Talu (Pasaman), Pauh IX (Padang), Padang Pariaman, Bayang dan Tarusan (Pesisir Selatan), dan beberapa nagari lain di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, dan perantauan orang Minang.

Pemekaran suku Tanjung
Suku ini mengalami pemekaran menjadi beberapa pecahan suku yaitu:
Tanjung Pisang (Tanjung Sipisang)
Tanjung Simabua
Tanjung Guci
Tanjung Kaciak (Tanjung Ketek)
Tanjung Sikumbang
Tanjung Koto
Tanjung Gadang
Tanjung Payobada
Tanjung Sumpadang (Tanjung Supadang)
Tanjung Batingkah
Panai Tanjung

Sekutu suku Tanjung
Suku Tanjung termasuk ke dalam Lareh Koto Piliang. Sekutu suku Tanjung adalah:
Suku Guci (sebagian ada yang mengatakan dekat ke Suku Melayu misalnya di Pauh, Padang)
Suku Sikumbang
Suku Koto
Suku Piliang
Suku Sipisang

Suku Tanjung bersama Suku Malayu dan Suku Mandailiang mempunyai kemiripan nama dengan marga Tanjung, Etnis Melayu dan marga Mandailing di luar Minangkabau. Apakah ketiga suku ini mempunyai kaitan sejarah di masa lampau, ini membutuhkan penelitian lebih lanjut

6. Suku Guci
Adalah salah satu di Minangkabau yang berafiliasi dalam Lareh Koto Piliang yaitu merapat ke suku Tanjung.
Suku Guci di berbagai daerah bergabung dengan suku-suku yang berbeda-beda. Di daerah Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, suku Guci serumpun dengan suku Tanjung. Tapi di Pauh, Padang, suku Guci serumpun dengan Suku Melayu. Begitu pula di kecamatan Empat Koto, Agam, suku Guci disebut pula sebagai suku Guci Piliang, yang berarti suku ini telah merapat pula ke Suku Piliang, di Nagari Kuraitaji Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman & Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman, suku Guci merupakan kelompok masyarakat yang berasal dari suku Piliang yang menetap di Nagari Kuraitaji karena di nagari ini tidak ada suku Piliang

7. Suku Sikumbang
Suku Sikumbang termasuk suku yang banyak berkembang diantara suku-suku Minangkabau. Warga suku ini menyebar di berbagai wilayah Minangkabau baik di luhak, rantau ataupun di perantauan.

Sekutu Suku Sikumbang
Suku Sikumbang bersekutu dengan suku-suku lain di Minangkabau terutama Suku Tanjung, Suku Koto, Suku Piliang dan suku lainnya.

Gelar Datuk Suku Sikumbang
Diantara gelar datuk suku ini adalah :
Datuk Bandaro
Datuk Basa Batuah
Datuk Rajo Api
Datuk Mangiang

8. Suku Jambak
Suku Jambak adalah salah suku di Minangkabau yang bernaung di bawah Lareh Bodi Caniago.

Pemekaran
Di nagari Malalo, Batipuh Selatan (Tanah Datar), suku Jambak mengalami pertumbuhan populasi yang pesat yang mengakibatkan mereka harus memekarkan diri menjadi beberapa pecahan suku yaitu:
suku Muaro Basa
suku nyiur
suku makaciak
suku pauh
suku simawang (diambil dari nama nagari tetangga)
suku talapuang
suku melayu (nama ini diambilkan dari nama suku melayu yang sudah ada). Sehingga bisa disebut sebagai suku melayu jambak.
suku jambak
suku pisang (nama suku ini juga sudah ada di daerah lain sehingga disebut saja sebagai suku pisang jambak).
suku sapuluh
suku baringin.

Kerabat
Sekutu yang paling populer dari suku Jambak adalah Suku Kutianyie. Selain itu juga berkerabat dengan Suku Bodi dan Suku Caniago

9. Suku Kampai
Suku Kampai adalah sebuah suku yang terdapat dalam kelompok etnis Minangkabau.

Persebaran
Suku ini banyak terdapat di Solok Selatan, Solok, Pesisir Selatan, Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanah Datar dan beberapa nagari lainnya di Minangkabau baik di darek maupun rantau.

Kerabat
Suku ini berkerabat dengan Suku Panai, Suku Malayu, Suku Mandailiang dan beberpa suku lainnya.

Penghulu Adat
Dt. Rajo Malikan Nan Gomuak
Dt. Marajo Cindo Nan Kuniang

10. Suku Malayu
Suku Malayu sebagai Suku Asal Suku Minangkabau
Dikutip dari Buku Sejarah Kebudayaan Minangkabau bahwa suku-suku yang ada dalam kelompok suku Minangkabau merupakan pemekaran dari suku Malayu. Berikut uraiannya: Suku Melayu terpecah menjadi 4 kelompok dan setiap kelompok mengalami pemekaran menjadi beberapa pecahan suku sebagai berikut:

Melayu nan IV Paruik (Kaum Kerajaan) :
  1. Suku Malayu
  2. Suku Kampai
  3. Suku Bendang (Suku Salayan)
  4. Suku Lubuk Batang
Melayu nan V Kampung (Kaum Datuk Nan Sakelap Dunia, Lareh Nan Panjang)
  1. Suku Kutianyie
  2. Suku Pitopang
  3. Suku Banuhampu (Suku Bariang)
  4. Suku Jambak
  5. Suku Salo
Melayu nan VI Ninik (Kaum Datuk Perpatih Nan Sebatang, Lareh Bodi Caniago)
  1. Suku Bodi
  2. Suku Singkuang (Suku Sumpadang)
  3. Suku Sungai Napa (Sinapa)
  4. Suku Mandailiang
  5. Suku Caniago
  6. Suku Mandaliko
  7. Suku Balaimansiang (Suku Mansiang)
  8. Suku Panyalai
  9. Suku Sumagek
  10. Suku Sipanjang (Supanjang)
Melayu Nan IX Induak (Kaum Datuk Ketumanggungan, Lareh Koto Piliang)
  1. Suku Koto (Andomo Koto)
  2. Suku Piliang
  3. Suku Guci (suku Dalimo)
  4. Suku Payobada (suku Dalimo)
  5. Suku Tanjung
  6. Suku Simabur
  7. Suku Sikumbang
  8. Suku Sipisang (Pisang)
  9. Suku Pagacancang
Pemekaran
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan populasi warga suku Malayu, pemekaran suku menjadi hal yang tak dapat dihindari. Telah terjadi pemekaran suku Malayu menjadi beberapa pecahan suku di berbagai nagari di Minangkabau, antara lain:
  • Malayu Panai
  • Malayu Gadang
  • Malayu Gadang Ranatu Kataka (Lunang)
  • Malayu Gadang Kumbuang (Lunang)
  • Malayu Gantiang
  • Malayu Ampek Niniak (Empat Nenek) (Solok Selatan}
  • Malayu Ampek Paruik (Empat Perut) (Solok Selatan)
  • Malayu Bariang Ampek Paruik (Solok Selatan)
  • Malayu Koto Kaciak Ampek Paruik (Solok Selatan)
  • Malayu Durian (Malayu Rajo)
  • Malayu Kecik (Kecil) (Lunang)
  • Malayu Durian Limo Ruang (Solok Selatan)
  • Malayu Badarah Putiah,
  • Malayu Baduak,
  • Malayu Balai,
  • Malayu Baruah,
  • Malayu Bendang,
  • Malayu Bongsu,
  • Malayu Bosa,
  • Malayu Bungo,
  • Malayu Cikarau,
  • Malayu Gandang Perak,
  • Malayu Kumbuak Candi,
  • Malayu Kumbuak Harum,
  • Malayu Lampai,
  • Malayu Lua,
  • Malayu Panjang,
  • Malayu Patar,
  • Malayu Siat,
  • Malayu Talang,
  • Malayu Tobo,
  • Malayu Tongah (Tangah)
  • Kerabat
Di antara suku-suku yang termasuk rumpun suku Melayu di Minangkabau adalah :
  • Suku Panai
  • Suku Bendang
  • Suku Kampai
  • Suku Mandailiang
11. Suku Bendang
Suku Bendang adalah salah satu suku (marga) yang termasuk kedalam kelompok suku Minangkabau

Etimologi
Secara etimologi kata ˜bendang berasal dari kata˜benderang yang artinya terang misalnya terdapat pada idiom suluh bendang (pelita terang).

Pemekaran Suku
Suku Bendang mengalami pemekaran menjadi beberapa suku yaitu:
suku Bendang Ateh Bukik
suku Bendang Rumah Baru,
suku Bendang Salek
suku Kampai Bendang (di Solok Selatan)
suku Malayu Bendang (di Bayang)

Kerabat
Kerabat paling dekat dengan suku Bendang adalah suku Malayu, suku Panai, suku Kampai dan beberapa suku lainnya.

12. Suku Panai
Suku Panai termasuk ke dalam subetnis suku Malayu, yang merupakan sebagian dari suku bangsa Minangkabau. Suku ini juga berkerabat dengan Suku Kampai dan Suku Bendang, yang semuanya menganut adat Koto Piliang dan sebagian juga menganut campuran kedua adat Koto Piliang dan Bodi Caniago.
Suku ini banyak terdapat di daerah Kabupaten Solok Selatan. Suku ini juga banyak melakukan pemekaran suku.

13. Suku Pitopang
Suku Pitopang adalah salah satu suku yang banyak terdapat di Luhak Limo Puluh Koto dan Riau (wilayah Kuantan, Kampar dan Rokan).

Etimologi
Kadang-kadang suku ini disebut Patapang, Petopang, Pitapang dan Patopang. Mungkin asal katanya adalah Topang yang berarti Sangga atau Dukung (Penopang/Penumpu).

Persebaran
Suku ini banyak menyebar di Kabupaten dan kota Lima Puluh Kota dan Riau.
Penghulu Adat

14. Suku Payobada
Suku Piboda atau Payobada adalah salah satu suku (marga) dalam kelompok etnis Minangkabau, yang penyebarannya tersebar merata di tiga Luhak yang tersebut dalam tambo, yaitu Luhak Tak nan Data atau Tanah Datar (sekarang), Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah

Pemekaran
Suku juga mengalami pemekaran spt halnya suku Minang yang lain, diantaranya adalah adanya suku Tanjung Payobada di nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Agam.

15. Suku Panyalai
Suku Panyalai merupakan salah satu suku yang bertempat tinggal di Nagari Kuraitaji (sekarang terletak dalam 2 daerah otonom yaitu Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman).

Masih banyak suku-suku lain di Minang yang belum memiliki keterangan yang memadai, diantaranya:
  • Suku Kutianyie
  • Suku Mandailiang
  • Suku Sipisang
  • Suku Mandaliko
  • Suku Sumagek
  • Suku Dalimo
  • Suku Simabua
  • Suku Salo
  • Suku Singkuang
  • Suku Rajo Dani

Lambang Minangkabau

Lambang Minangkabau - TUAH SAKATO

Tuah Sakato
Lambang masyarakat yang semufakat
Saciok bak Ayam Sadanciang bak Basi.

Bola Bulan Bintang
Lambang Tauhid Islam
Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Al-Qur'an).

Tanduk Kerbau
Lambang 4 K (Kearifan, Kecerdikan, Ketekunan dan Keuletan)
Alun takilek lah takalam, Hiduik baraka, Baukue jo bajangko (belum membayang sudah paham, hidup berakal/ rasional, berukur dan berjangka (berencana ).

Payung Panji
Lambang kemuliaan, keamanan, kedamaian dan kesejahteraan masyarakat
Bumi Sanang Padi Manjadi, Padi masak Jagung maupie, Anak Buah sanang santosa, Taranak bakambang biak, Bapak kayo Mandeh batuah, Mamak disambah urang pulo.

Keris dan Pedang
Lambang kesatuan Hukum Adat dan Hukum Islam , yaitu untuk menjamin ketertiban masyarakat melalui pelaksanaan adat yang kuat dan syarak yang wajib

Tombak
Lambang ketahanan masyarakat , yaitu kampung yang berpagar aturan, negeri yang berpagar undang-undang. Dalam urusan suku memagar suku, dalam urusan kampung memagar kampung dan dalam urusan negeri memagar negeri.
Kampuang nan bapaga buek Nagari bapaga Undang Tagak basuku–mamaga suku Tagak bakampuang

Morawa (Umbul-umbul)
Morawa merupakan salah satu simbol kebesaran adat minangkabau, dengan makna tersendiri

Marawa Kebesaran Adat Minangkabau ( Empat Warna )

Tiang : Melambangkan mambasuik dari bumi.

Hitam : Melambangkan tahan tapi serta mempunyai akal dan budi
Kuning : Melambangkan keagungan, punya undang-undang dan hukum
Merah : Melambangkan keberanian, punya raso jo pareso
Putih : Melambangkan kesucian, punya alua dan patuik.

Marawa Kebesaran Alam Minangkabau ( Tiga warna )

Tiang : Melambangkan mambasuik dari bumi,

Hitam : Melambangkan tahan tapo serta mempunyai akal dan budi dengan kebesaran Luhak Limopuluah. Kalau acara di wilayah adat Luhak Limopuluah, maka marawanya berwarna hitam sebelah luar. Catatan : warna daerah Limopuluah Koto adalah biru.

Merah : Melambangkan keberanian punya raso jo pareso dengan kebesaran Luhak Agam. Jika acara di wilayah Luhak Agam maka marawa berwarna merah sebelah luar. Catatan : warna daerah Agam adalah merah ( sirah ).

Kuning : Melambangkan keagungan, punya undang-undang dan hukum dengan kebesaran Luhak Tanahdata. Jika acara di wilayah Luhak Tanahdata, maka marawanya berwarna kuning sebelah luar. Catatan : warna daerah Tanahdata adalah kuning.

Mamaga kampuang Tagak ba nagari – mamaga nagari Marawa


Pemanfaatan Pusako Tinggi di Minangkabau


Dalam adat istiadat dan khazanah Ranahminang yang memiliki filosofi Adat basandi Syarat dan Syarak basandi Kitabullah hasil dari konsensus di Puncak Pato, menyatakan secara jelas dan gamblang bahwa Adat minangkabau yang melanggar aturan harus tunduk dan patuh. Maka pada saat itu dimulailah proses penghilangan adat istiadat yang bertentangan dengan sengenap Ajaran Islam.
Dalam adat istiadat Ranah minang dibagi dua jenis Pusaka atau harta kaum (suku) ranah minang. Pertama Pusaka tinggi dan pusaka rendah. Pusaka tinggi adalah harta yang pengelolaannya diwariskan secara turun temurun kepada wanita atau bundo kanduang. Sedangkan harta pusaka rendah, diwariskan sebagai hak suku yang pengelolaannya oleh warga suku sepengetahuan datuak atau niniak mamak. Jika ada kelasahan mohon diluruskan. Pusaka tinggi dalam adat minangkabau berupa, ada mata air, kolam, sawah, parak (kebun) dan juga pandam pekuburan dan juga sebuah rumah gadang. Perolehan harta ini berawal dari pembukaan lahan oleh suatu suku di sebuah perkampungan baru untuk di didiami anak keturunan.
Sedangkan harta pusaka rendah adalah tanah suku yang merupakan tempat berladang bagi anggota kaum yang memiliki batas-batas tertentu. Ketentuan pembagian harta pusaka tinggi dan pusaka rendah tidak boleh dilakukan jual beli, namun boleh digadaikan dengan alasan;
Pertama. Seorang gadis yang tidak laku (atau telah perawan tua) dan belum memiliki suami, maka sebagian dari harta pusaka boleh digadaikan untuk keperluan menikahkan sang gadis.
Kedua. Ketika mait (orang meninggal) terletak dirumah dan tidak ada biaya untuk menyelenggarakannya

Harta kepemilikan bersama atas nama satu kaum dan orang banyak tidak dapat dibagi secara hukum Islam. Pembagian waris hanya dapat dilakukan untuk harta milik perorangan dari pencarian halal dan benar secara Islam. Harta pusaka tinggi adalah harta yang memiliki hukum qiyas wakaf yang peruntukannya telah ditentukan oleh oleh beberapa generasi sebelumnya. Kepemilikan tidak ada pada orang perorang, namun hak pengelolaannya telah ditentukan. Harta pusaka tinggi, bukanlah pencarian dari Ayah dan Ibu atau kakek dan nenek. Maka tiada hukum waris berlaku atas hal tersebut.. Dimana di dalamnya terdapat kebaikan dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan Islam.
Manfaat dari belakukanya Pusaka Tinggi di ranah minang adalah:
  • Terpeliharanya kaum suku minangkabau, khusus perempuan dari terbuang dari kampungnya sendiri. Ketika ia cerai dengan suami, atau tidak memiliki kekuatan ekonomi maka tanah pusaka dapat menopang ekonomi dan tidak menjadikan hina.
  • Terpeliharanya tanah kaum muslimin, hal ini tidak beralih kepada selain muslim. Tiada penguasaan mutlak atas seseorang dengan luas tanah yang berjuta hektar. Hal ini menghilangkan monopoli sumber ekonomi utama yakni tanah. Hal ini mengacu pada ijtihat Umar bin Khattab dalam mengembalikan tanah rampasan perang di Irak dan Iran kepada penduduk dan mewajibkan membayar Kharaj dan Jizyah atas jaminan keamanan.
  • Terpelihara sistem kekerabatan dan juga silaturrahmi diantara kaum suku di ranahminang. Dimana setiap peralihan dan juga alih fungsi memerlukan musyawarah bersama antara Datuak (kepala kaum) niniak mamak dan juga bundo kanduang (pihak ibu)
Namun yang disayangkan saat ini, banyak dari harta pusaka tinggi yang disalahgunakan oleh ninik mamak/ penghulu kaum bahkan diperjualbelikan sehingga kadang ada kaum yang tidak memiliki harta pusako tinggi lagi.
Seharusnya, keberadaan harta pusaka tinggi mampu memberikan manfaat nyata terhadap anggota suatu kaum, bahkan jika dikelola dengan baik dapat menjadi suatu potensi ekonomi yang mensejahterakan seluruh anggota kaum tersebut.

sumber : M. Yunus (artikel kompasiana)

Rumah Gadang 13 Ruang - Sijunjung

Rumah gadang ini adalah warisan leluhur nagari lubuk tarok Kabupaten Sijunjung. dimana rumah gadang ini bernama Rumah Gadang Dalimo dari suku Dalimo Sungai Jodi, berdampingan dengan kantor Wali Nagari lubuk tarok Kabupaten Sijunjung, Rumah Gadang 13 Ruang yang terdapat di Jorong Sungai Jodi Kenagarian Lubuk Tarok merupakan rumah gadang kaum suku Dalimo Kenagarian Lubuk Tarok Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung, berlokasi di pinggir jalan raya antara Muaro-Lubuk Tarok, dengan jarak sekitar 28 km dari Muaro, atau sekitar 156 km dari Bandara Internasional Minang Kabau.


Sebagaimana halnya sebuah rumah gadang, bangunan ini terdiri dari kayu pilihan, dengan atap ijuk (sekarang sudah atap seng), tiang dan perkayuan penyanggah berasal dari kayu kulin dan meranti merah. Dinding suyok (rusuk red) terdiri dari papan susun berdiri sedangkan dinding badan rumah dari papan yang bersusun mendatar. 

Rumah Gadang 13 Ruang dibangun oleh Suku Dalimo. Pertanggalan dari pembangunan rumah gadang tersebut tidak diketahui secara pasti. Berdasarkan cerita yang diperoleh secara turun temurun dari generasi ke generasi, semula rumah gadang tersebut terdiri dari 17 ruang. Pengurangan dari 17 ruang menjadi 13 ruang ini tidak diketahui dengan pasti kapan dan apa penyebabnya.
Foto : FB Zora N

Fungsi semula dari Rumah gadang ini adalah sebagai tempat tinggal keluarga-keluarga dari Suku dalimo, selain itu juga berfungsi sebagai tempat untuk baralek nagari. Pada waktu terjadi peristiwa PRRI rumah gadang ini dibongkar sebagian dinding dan lantainya dengan tujuan agar tidak turut dibakar oleh pemberontak PRRI. Sejak terjadinya pembongkaran itu maka sekarang rumah gadang 13 ruang itu dihuni oleh hanya atu keluarga saja yang sekaligus bertugas sebagai penunggunya.

ref :
- http://www.visitsijunjung.com